<b><bg=ff00CED1>asal usul sunan Muria

Diposting oleh dedemunawar pada 09:06, 24-Apr-13

1. Asal Usul Sunan Muria
Beliau
adalah putera Sunan
Kalijaga dengan Dewi
Saroh. Nama aslinya
Raden Umar Said. Seperti
ayahnya, dalam
berdakwah beliau
menggunakan cara halus,
ibarat mengambil ikan
tidak sampai
mengeruhkan airnya.
Itulah cara yang
ditempuh untuk
menyiarkan agama Islam
di sekitar Gunung Muria.
Tempat tinggal beliau di
gunung Muria yang salah
satu puncaknya bernama
Colo. Letaknya disebelah
utara kota Kudus.
Sasaran dakwah beliau
adalah para pedagang,
nelayan, pelaut dan
rakyat jelata. Beliau lah
satu-satu wali yang tetap
mempertahankan
kesenian gamelan dan
wayang sebagai alat
dakwah untuk
menyampaikan Islam.
Dan beliau pula yang
menciptakan tembang
Sinom dan Kinanti.
2. Sakti Mandraguna
Bahwa Sunan Muria itu
adalah wali yang sakti,
kuat fisiknya dapat
dibuktikan dengan letak
padepokannya yang
terletak di atas gunung.
Menuju ke makam Sunan
Muria pun perlu tenaga
ekstra karena berada
diatas bukit yang tinggi.
Bayangkanlah, jika sunan
Muria dan isterinya atau
dengan muridnya setiap
hari harus naik turun
guna menyebarkan
agama Islam kepada
penduduk setempat, atau
berdakwah kepada para
nelayan dan pelaut serta
para pedagang. Hal itu
tidak dapat dilakukannya
tanpa adanya fisik yang
kuat. Soalnya
menunggang kuda tidak
mungkin dapat dilakukan
untuk mencapai tempat
tinggal Sunan Muria.
Harus dengan jalan kaki.
Itu berarti Sunan Muria
memiliki kesaktian yang
tinggi, demikian pula
dengan murid-muridnya.
Bukti bahwa Sunan
Muria adalah guru yang
sakti mandraguna dapat
ditemukan dalam kisah
perkawinan dengan Dewi
Roroyono. Dewi Roroyono
adalah puteri Sunan
Ngerang, yaitu seorang
ulama yang disegani
masyarakat karena
ketinggian ilmunya,
tempat tinggalnya di
Juana.
Demikian saktinya Sunan
Ngerang ini sehingga
Sunan Muria dan Sunan
Kudus sampai-sampai
berguru kepada beliau.
Pada suatu hari Sunan
Ngerang mengadakan
syukuran atas usia Dewi
Roroyono yang genap 20
tahun. Murid-muridnya
diundang semua. Seperti :
Sunan Muria, Sunan
Kudus, Adipati Pathak
Warak, Kapa dan
Adiknya Gentiri.
Tetangga dekat jua
diundang, demikian pula
snak kadang yang dari
jauh.
Setelah tamu berkumpul
Dewi Roroyono dan
adiknya Dewi Roro
Pujiwati keluar
menghidangkan makanan
dan minuman. Keduanya
adalah dara-dara yang
cantik jelita. Terutama
Dewi Roroyono yang
telah berusia 20 tahun,
bagaikan bunga yang
sedang mekar-mekarnya.
Bagi Sunan Kudus dan
Sunan Muria yang sudah
berbekal ilmu agama
dapat menahan
pandangan matanya
sehingga tidak terseret
oleh godaan setan. Tapi
seorang murid Sunan
Ngerang yang lain yaitu
Adipati Pathak Warak
memandang Dewi
Roroyono dengan mata
tidak berkedip melihat
kecantikan gadis itu.
Sewaktu menjadi cantrik
atau murid Sunan
Ngerang, yaitu ketika
Pthak Warak belum
menjadi seorang Adipati,
Roroyono masih kecil,
belum nampak benar
kecantikannya yang
mempesona, sekarang
gadis itu benar-benar
membuat Adipati Pathak
Warak tergila-gila.
Sepasang matanya
hampir melotot
memandangi gadis itu
terus menerus.
Karena dibakar api
asmara yang
menggelora, Pathak
Warak tidak tahan lagi.
Dia menggoda Roroyono
dengan ucapan-ucapan
yang tidak pantas. Lebih-
lebih setelah lelaki itu
bertindak kurang ajar.
Tentu saja Roroyono
merasa malu sekali,
lebih-lebih ketiak lelaki
itu berlaku kurang ajar
dengan memegangi
bagian-bagian tubuhnya
yang tak pantas disentuh.
Si gadis naik pitam,
nampan berisi minuman
yang dibawanya sengaja
ditumpahkan ke pakaian
sang adipati.
Pathak Warak
menyumpah-nyumpah,
hatinya marah sekali
diperlakukan seperti itu.
Apalagi dilihatnya para
tamu undangan
menertawakan
kekonyolan itu, diapun
semakin malu. Hampir
saja Roroyono
ditamparnya kalau tidak
ingat bahwa gadis itu
adalah puteri gurunya.
Roroyono masuk kedalam
kamarnya, gadis itu
menangis sejadi-jadinya
karena dipermalukan
oleh Pathak Warak.
Malam hari tamu-tamu
dari dekat sudah pulang
ketempatnya masing-
masing. Tamu dari jauh
terpaksa menginap di
rumah Sunan Ngerang,
termasuk Pathak Warak
dan Sunan Muria. Namun
hingga lewat tengah
malam Pathak Warak
belum dapat
memejamkan matanya.
Pathak Warak kemudian
bangkit dari tidurnya.
Mengendap-ngendap ke
kamar Roroyono. Gadis
itu diserepnya sehingga
tidak sadarkan diri,
kemudian melalui
genteng Pathak Warak
masuk dan membawa lari
gadis itu melalui jendela.
Dewi Roroyono dibaw
alari ke Mandalika,
wilayah Keling atau
Kediri.
Setelah Sunan Ngerang
mengetahui bahwa
puterinya diculik oleh
Pathak Warak, maka
beliau berikrar siapa saja
yang berhasil membawa
puterinya kembali ke
ngerang akan dijodohkan
dengan puterinya itu dan
bila perempuan akan
dijadikan saudara Dewi
Roroyono. Tak ada yang
menyatakan
kesanggupannya. Karena
semua orang telah
maklum akan kehebatan
dan kekejaman Pathak
Warak. Hanya Sunan
Muria yang bersedia
memnuhi harapan Sunan
Ngerang.
Saya akan berusaha
mengambil Diajeng Dewi
Roroyono dari tangan
Pathak Warak, kata
Sunan Muria.
Tetapi ditengah perjalan
Sunan Muria bertemu
dengan Kapa dan Gentiri,
adik seperguruan yang
lebih dulu pulang
sebelum acara syukuran
berakhir. Kedua orang itu
merasa heran melihat
Sunan Muria berlari
cepat menuju arah
daerah Keling.
Mengapa kakang tampak
tergesa-gesa? Tanya
Kapa. Sunan Muria lalu
menceritakan penculikan
Dewi Roroyono yang
dilakukan oleh Pathak
Warak.
Kapa dan Gentiri sangat
menghormati Sunan
Muria sebagai saudara
seperguruan yang lebih
tua. Keduanya lantas
menyatakan diri untuk
membantu Sunan Muria
merebut kembali Dewi
Roroyono.
Kakang sebaiknya pulang
ke Padepokan Gunung
Muria. Murid-murid
kakang sangat
membutuhkan bimbingan.
Biarlah kami berusaha
merebut diajeng Dewi
Roroyono kembali. Kalau
berhasil kakang tetap
berhak mengawininya,
kami hanya sekedar
membantu, kata kapa.
Aku masih sanggup untuk
merebutnya sendiri, ujar
Sunan Muria.
Itu benar, tapi
membimbing orang
memperdalam agama
Islam lebih penting,
percayalah pada kami.
Kami pasti sanggup
merebutnya kembali,
kata kapa ngotot.
Sunan Muria akhirnya
meluluskan permintaan
adik seperguruannya itu.
Rasanya tidak enak
menolak seseorang yang
hendak berbuat baik.
Lagi pula ia harus
menengok para santrinya
di padepokan Gunung
Muria.
Untuk merebut Dewi
Roroyono dari tangan
Pathak Warak, Kapa dan
Gentiri ternyata minta
bantuan seorang Wiku
Lodhang Datuk di pulau
Sprapat yang dikenal
sebagai tokoh sakti yang
jarang tandingannya.
Usaha itu berhasil. Dewi
Roroyono dikembalikan
ke Ngerang.
Hari berikutnya Sunan
Muria hendak ke
Ngerang. Ingin
mengetahui
perkembangan usaha
Kapa dan Gentiri.
Ditengah jalan beliau
bertemu dengan Adipati
Pathak Warak.
Hai Pathak Warak
berhenti kau, bentak
Sunan Muria.
Pathak Warak yang
sedang naik kuda
terpaksa berhenti karena
Sunan Muria menghadang
didepannya.
Minggir!! Jangan
menghalangi Jalanku,
hardik Pathak Warak.
Boleh, asal kau
kembalikan Dewi
Roroyono !
Goblok!! Dewi Roroyono
sudah dibawa Kapa dan
Gentiri!! Kini aku hendak
mengejar mereka!!
Umpat Pathak Warak.
Untuk apa kau mengejar
mereka?
Merebutnya kembali!
Jawab Pathak Warak
dengan sengit.
Kalau begitu langkahi
dulu mayatku, Dewi
Roroyono telah
dijodohkan denganku,
ujar Sunan Muria sambil
pasang kuda-kuda.
Tanpa basa basi Pathak
Warak melompat dari
punggung kuda. Dia
merangkak ke arah
Sunan Muria dengan
jurus-jurus cakar
harimau. Tapi dia bukan
tandingan putera Sunan
Kalijaga yang memiliki
segudang kesaktian.
Hanya dalam beberapa
kali gebrakan, Pathak
Warak telah jatuh atau
roboh di tanah dalam
keadaan fatal. Seluruh
kesaktiannya lenyap dan
ia menjadi lumpuh, tak
mampu untuk bangkit
berdiri apalagi berjalan.
Sunan Muria kemudian
meneruskan perjalanan
ke Juana. Kedatangannya
disambut gembira oleh
Sunan Ngerang. Karena
Kapa dan entiri telah
bercerita jujur bahwa
mereka sendirilah yang
memaksa mengambil alih
tugas Sunan Muria
mencari Dewi Roroyono,
maka Sunan Ngerang
pada akhirnya
menjodohkan Dewi
Roroyono dengan Sunan
Muria. Upacara
pernikahan pun segera
dilaksanakan.
Kapa dan Gentiri yang
berjasa besar itu diberi
hadiah tanah di desa
Buntar. Dengan hadiah
itu keduanya sudah
menjadi orang kaya yang
hidupnya serba
berkecukupan.
Sedang Sunan Muria
memboyong isterinya ke
Padepokan Gunung
Muria. Mereka hidup
Bahagia, karena
merupakan pasangan
yang ideal.
Tidak demikian halnya
dengan Kapa dan Gentiri.
Sewaktu membawa Dewi
Roroyono dari keling ke
Ngerang agaknya
mereka terlanjur
terpesona oleh
kecantikan wanita jelita
itu. Siang malam mereka
tidak bisa tidur. Wajah
wanita itu senantiasa
terbayang. Namun
karena wanita itu sudah
diperisteri kakak
seperguruannya mereka
tak dapat berbuat apa-
apa lagi. Hanya
penyesalan yang
menghujam didada.
Mengapa mereka dulu
terburu-buru
menawarkan jasa
baiknya. Betapa enaknya
Sunan Muria, tanpa
bersusah payah sekarang
menikmati kebahagiaan
bersama gadis yang
mereka dambakan. Inilah
hikmah ajaran agama
agar lelaki diharuskan
menahan pandangan
matanya dan menjaga
kehotmatan (kemaluan)
mereka.
Andaikata Kapa dan
Gentiri tidak memandang
terus menerus kearah
wajah dan tubuh Dewi
Roroyono yang indah itu
pasti mereka tidak akan
terpesona dan tidak
terjerat oleh iblis yang
memasang perangkap
pada pandangan mereka.
Kini Kapa dan Gentiri
benar-benar telah
dirasuki iblis. Mereka
bertekad hendak
merebut Dewi Roroyono
dari tangan Sunan Muria.
Mereka telah sepakat
untuk menjadikan wanita
itu sebagai isteri bersama
secara bergiliran.
Sungguh keji rencana
mereka.
Gentiri berangkat lebih
dahulu ke Gunung Muria.
Namun ketika ia hendak
melaksanakan niatnya
dipergoki oleh murid
Sunan Muria, terjadilah
pertempuran dahsyat.
Apalagi ketika Sunan
Muria keluar menghadapi
Gentiri, suasana menjadi
semakin panas. Akhirnya
gentiri tewas menemui
ajalnya di puncak Gunung
Muria.
Kematian Gentiri cepat
tersebar ke berbagai
daerah. Tapi tidak
membuat surut niat
Kapa. Kapa cukup cerdik.
Dia datang ke gunung
Muria secara diam-diam
dimalam hari. Tak
seorangpun yang
mengetahuinya.
Kebetulan pada saat itu
Sunan Muria dan
beberapa murid
pilihannya sedang
bepergian ke Demak
Bintoro. Kapa menyerep
murid-murid Sunan Muria
yang berilmu rendah,
yang ditugaskan menjaga
Dewi Roroyono.
Kemudian yang dengan
mudahnya Kapa menculik
dan membawa wanita
impiannya itu ke pulau
sprapat.
Pada saat yang sama,
sepulangnya dari Demak
Bintoro. Sunan Muria
bermaksud mengadakan
kunjungan kepada Wiku
Lodhang Datuk di pulau
Sprapat. Ini biasanya
dilakukannya bersahabat
dengan pemeluk agama
lain bukanlah suatu dosa.
Terlebih sang Wiku itu
pernah meneolongnya
merebut Dewi Roroyono
dari Pathak Warak.
Seperti ajaran Sunan
Kalijaga yang mampu
hidup berdampingan
dengan pemeluk agama
lain dalam suatu negeri.
Lalu ditunjukkan akhlak
Islam yang mulia dan
agung. Bukannya
berdebat tentang
perbedaan agama itu
sendiri. Dengan
menerapkan ajaran-
ajaran akhlak yang mulia
itu nyatanya banyak
pemeluk agama lain yang
pada akhirnya tertarik
dan masuk Islam secara
sukarela.
Ternyata, kedatangan
Kapa ke pulau Sparapat
itu tidak disambut baik
oleh Wiku Lodhang
Datuk.
Memalukan! Benar-benar
nista perbuatanmu itu!
Cepat kembalikan isteri
kakang seperguruanmu
sendiri itu! Hardik Wiku
Lodhang Datuk dengan
marah.
Bapa Guru ini bagaiman,
bukakah aku ini
muridmu? Mengapa tidak
kau bela? Protes Kapa.
Sampai matipun aku
takkan sudi membela
kebejatan budi pekerti
walau pelakunya itu
muridku sendiri !
Perdebatan antara guru
dengan murid itu
berlangsung lama. Tanpa
mereka sadari Sunan
Muria sudah sampai
ditempat itu. Betapa
terkejutnya Sunan Muria
melihat isterinya sedang
tergolek ditanah dalam
keadaan terikat kaki dan
tangannya. Sementara
Kapa dilihatnya sedang
adu mulut dengan
gurunya yaitu Wiku
Lodhang Datuk.
Begitu mengetahui
kedatangan Sunan Muria,
Kapa Langsung
melancarkan serangan
dengan jurus-jurus maut.
Wiku Lodhang Datuk
menjauh, melangkah
menuju Dewi Roroyono
untuk membebaskan
belenggu yang dilakukan
Kapa.
Bersamaan dengan
selesainya sang Wiku
membuka tali yang
mengikat tubuh Dewi
Roroyono. Tiba-tiba
terdengar jeritan keras
dari mulut Kapa.
Ternyata serangan
dengan pengerahan aji
kesaktian yang dilakukan
Kapa berbalik
menghantam dirinya
sendiri. Itulah ilmu yang
dimiliki Sunan Muria.
Mampu membalikkan
serangan lawan.
Karena Kapa
menggunakan aji
pamungkas yaitu puncak
kesaktian yang
dimilikinya maka ilmu itu
akhirnya merenggut
nyawanya sendiri.
Maafkan saya tuan
Wiku….,ujar Sunan Muria
agak menyesal. Tidak
mengapa. Menyesal aku
turut memberikan ilmu
kepadanya. Ternyata
ilmu itu digunakan untuk
jalan kejahatan, gumam
Sang Wiku.
Bagaimanapun Kapa
adalah muridnya,
pantaslah kalau dia
menguburkannya secara
layak.
Pada akhirnya Dewi
Roroyono dan Sunan
Muria kembali ke
Padepokan dan hidup
bahagia.

Bagikan ke Facebook Bagikan ke Twitter

Komentar

2 tanggapan untuk "<b><bg=ff00CED1>asal usul sunan Muria"

Qasim nagara pada 01:52, 25-Apr-13

Top Broo,
Nyimak aja langsung di Follow ya blog ane!

dedemunawar pada 06:04, 30-Apr-13

ya

Langganan komentar: [RSS] [Atom]

Komentar Baru

[Masuk]
Nama:

Komentar:
(Beberapa Tag BBCode diperbolehkan)

Kode Keamanan:
Aktifkan Gambar